Kamis, 14 April 2016
Analisis Power India Superpower Asia Selatan
Republik India adalah sebuah negara di Asia yang mempunyai jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia, dengan populasi lebih dari satu milyar jiwa, dan adalah negara terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah geografis. Jumlah penduduk India tumbuh pesat sejak pertengahan 1980-an. Ekonomi India adalah terbesar keempat di dunia dalam PDB, diukur dari segi paritas daya beli (PPP), dan salah satu pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia
Seluruh negara-negara bagian India di utara dan timur laut dibentuk oleh Banjaran Himalaya. Wilayah lainnya terdiri dari hamparan Indo-Gangetik yang subur. Di sebelah barat yang berbataskan Pakistan tenggara terdapat Gurun Thar. Semenanjung India di selatan hampir seluruhnya merupakan bagian dari hamparan Dekan (Deccan). Di kedua sisi hamparan ini terdapat dua banjaran pesisir yang berbukit-bukit, Ghats Barat dan Ghats Timur.India mempunyai beberapa sungai besar seperti Sungai Gangga, Brahmaputra, Yamuna, Godavari, dan Krishna. Sungai-sungai tersebutlah yang menyebabkan suburnya hamparan-hamparan di sebelah utara India sehingga cocok untuk ditanam.
Kebudayaan India penuh dengan sinkretisme dan pluralisme budaya. Kebudayaan ini terus menyerap adat istiadat, tradisi, dan pemikiran dari penjajah dan imigran sambil terus mempertahankan tradisi yang sudah mapan dan menyebarluaskan budaya India ke tempat-tempat lain di Asia. Orang India sangat menghargai nilai-nilai kekeluargaan tradisional. Walaupun demikian, rumah-rumah di perkotaan sekarang lebih sering hanya didiami oleh keluarga inti. Hal ini disebabkan keterbatasan ekonomi dan sosial untuk hidup bersama dalam sebuah keluarga besar. Di kawasan pedesaan masih umum dijumpai anggota keluarga dari tiga hingga empat generasi yang tinggal di bawah satu atap. Masalah-masalah yang timbul dalam keluarga sering diselesaikan secara patriarkisme. Mayoritas terbesar orang India menikah setelah dijodohkan oleh orang tua mereka atau anggota keluarga yang dituakan, namun dengan persetujuan pengantin pria dan pengantin wanita. Pernikahan dipandang sebagai ikatan seumur hidup, dan angka perceraian sangat rendah. Walaupun demikian, pernikahan dini masih merupakan tradisi yang umum. Separuh dari populasi wanita India menikah sebelum mencapai usia 18 tahun yang merupakan usia dewasa menurut hukum
Orang India terkenal sangat menghargai dan menjunjung tinggi nilai budaya tradisional. Tetapi itu tidak menjadikan suatu faktor utama untuk melakukan modernisasi di berbagai bidang. India telah menggeliat menjadi kekuatan baru di Asia dengan menerapkan pembangunan ke arah modernisasi
Modernisasi Di India
Modernisasi Bidang Teknologi Informasi
Perancangan Layanan Jauh
Pertarungan pada abad ke-20 ini adalah pertarungan ide, yang menghasilkan nilai ekonomi tinggi. Ide melahirkan inovasi, yang tidak saja dalam bentuk mesin tetapi ide-ide baru, yang terus-menerus melahirkan sektor jasa yang baru. Sektor pertanian dan industri di India bukan lagi menjadi andalan utama perekonomian, Ke depan, masyarakat global akan menjadi tergantung pada kegiatan industri berbasis pengetahuan. Sesuai dengan syarat manusia modern di atas yang diungkapkan Inkeles dan Smith adalah terbuka terhadap hal-hal dan pengetahuan baru. India memiliki keunggulan komparatif soal itu karena ketersediaan pekerja dengan kemampuan berbahasa inggris
Di antara beberapa negara berkembang, India tergolong terdepan soal teknologi informasi. Bahkan menakutkan negara-negara maju. Menurut analis J. P. Morgan, India dengan penduduknya yang mayoritas berusia muda dan berpengetahuan tinggi, maka dalam 20-30 mendatang India diunggulkan dalam pelayanan berbasis teknologi informasi dan layanan jarak jauh[1]. Hal tersebut terbukto dengan semakin banyaknya Bank Sentral India yang memindahkan pusat panggilan (call centre) dari Amerika Serikat (AS) ke India. Contohnya, nomor panggilan bebas pulsa 1-800-xxx untuk American Express Bank, yang tadinya bermarkas di AS, kini telah dipindahkan ke India. Nomor seperti itu biasanya merupakan akses untuk mendapatkan informasi soal perusahaan dan lainnya
Ke depan, yang akan terjadi bukan lagi sekadar pemindahan tugas dari luar India ke India hal sebaliknya pun juga akan terjadi, Ahli-ahli India memberikan pelayanan jasa-jasa India ke negara-negara lain tanpa harus terjadi perpindahan atau migrasi warga India ke negara lain. Di India akan direncanakan pelayanan konsultasi perpajakan, keuangan, pendidikan jarak jauh dengan sistem seperti di Barat. Semuanya berlangsung lewat jaringan teknologi informasi
Pembuatan Satelit Angkasa Mikro
Satelit mikro menjadi pilihan, karena teknologi meskipun maju namun relatif sederhana sehingga mudah dikuasai oleh tenaga ahli India, aplikasi teknologi luas, dan biaya pembuatan dan peluncurannya tergolong murah. Satelit ini berukuran kecil, yaitu 32x32x32 cm3 dan berat tidak sampai 45 kilogram. Satelit ini dapat dimuati berbagai muatan seperti sensor penginderaan jauh untuk pengamatan lingkungan, sistem telekomunikasi store and forward untuk hubungan data antar daerah terpencil, dan Global Positioning System (GPS) untuk koreksi geometri data citra penginderaan jauh bagi navigasi satelit India telah berhasil membuatnya. Satelit mikro India tersebut bernama Cartosat-2 dan Satellite Recovery Experiment. Satelit mikro tersebut membantu India mempermudah menganalisa pencitraan udara, telekomunikasi jarak jauh, internetisasi, dan mempercepat pengirim data digital antar negara bahkan antar benua.
Pembangunan Banglore Menjadi Kota Modern
Di kota ini, khususnya di Lembah Silikon, kantor perusahan teknologi informasi terbesar dunia didirikan, yaitu Mircrosoft dan IBM. Dengan penerapan teknologi informasi di berbagai bidang telah menjadikan Banglore menjadi kota “TI-nya India”. Hotel di kota ini sangat modern. Papan tulisan do not disturb atau clean up the room seperti di hotel-hotel Indonesia sudah tidak ditemukan. Bukan karena hotel di India tidak bisa membuatnya melainkan sistemnya sudah sangat modern. Semuanya tersedia dalam sebuah panel kecil berukuran palmtop atau seukuran telapak tangan yang diletakkan di atas meja kerja kamar berdampingan dengan pesawat telepon. Di sini, penyewa kamar tinggal tekan perintah di atas slot gesekan kunci elektronik, layar mungil berhuruf digital merah akan menyala. Petugas hotel di ruang control segera mengetahui dan memonitor keinginan penghuni hotel. Perintah berlaku pula untuk beker morning call. Kalau ingin kamar dibersihkan, petugas dari ruang control hotel akan meneruskan pesan kepada room boy untuk segera membersihkan kamar. Jadi, tidak perlu ada karton bergelantungan di pegangan pintu luar kamar Hampir semua perusahaan teknologi informasi membuak kantor dan perusahaannya di Banglore juga pabrik-pabrik otomotif. Tidak heran kalau kota ini dijuluki byte-basket India[2]
Modernisasi Industri Otomotif
Industri otomotif di India dewasa ini mulai bangkit menjadi industri palig berkembang dan kompetitif setelah teknologi informasi. Apabila hingga tahun 1982 baru ada tiga pabrikan otomotif, yaitu Hindustan Motors, Premier Automobiles, dan Standard Motors. Dewasa ini total teradapat 12 pabrikan kendaraan penumpang, 5 pabrikan kendaraan serba guna (MUVs), 9 pabrikan kendaraan roda dua, 5 pabrikan kendaraan roda tiga, 14 pabrikan traktor, dan 5 pabrikan mesin[3]. Hampir semua produsen mobil terkemuka dunia sudah membangun fasilitas produksi di India dan menjadikan negara itu sebagai pusat produksi mereka untuk memenuhi pasar lokal maupun ekspor. Total investasi di sektor ini sudah mencapao 50.000 crore rupee (setara 11, 218 miliar dollar AS).
Perkembangan industri otomotif di India juga tak lepas dari dukungan pabrikan komponen industri tersebut. Ketersediaan tenaga kerja dan terampil yang melimpah serta kekuatan di bidang teknologi informasi dan elektronik menjadi suatu lompatan besar yang dibuat India dalam bidang industri komponen. Dewasa ini, indutsri-industri komponen di India melakukan modernisasi di segala bidang sehingga mampu menghasilkan semua komponen yang dibutuhkan berbagai jenis merek kendaraan bermotor serta melayani semua kebutuhan pabrikan mobil lokal maupun asing di India. Tidak hanya itu, perusahaan komponen tersebut juga melakukan outsourcing komponen dari dalam atau luar negeri.
Kini ada sekitar 420 perusahaan kunci di sektor komponen otomotif. Perusahaan-perusahaan tersebut telah menyumbang sebesar 85% lebih dari total output komponen. Di luar itu, masih ada 10.000 lebih perusahaan kecil yang juga menjadi bagian penting dari mata rantai industry komponen otomotif India
Modernisasi Bidang Perfilman
Industri perfilman pun juga mulai melakukuan modernisasi mulai dari alat-alat perekam, sistem suara hingga teknik editing. Modernisasi dalam perfilman tersebut akhirnya membawa film-film India menjadi box office di dunia. Industri film India adalah industriu layar lebar terbesar di dunia menyangkut jumlah produksi setiap tahunnya. Menurut data dari Central Board of Film Certification of India, pada tahun 2003 telah diputar 877 film cerita India di bisokop-bioskop. Jika dibandingkan dengan data dari Motion Picture Association of America (MPAA) yang mengeluarkan 473 film cerita produksi AS pada tahun yang sama. Ini menunjukkan geliat industri perfilman India semakin gencar memproduksi film. Dengan adanya modernisasi di bidang industri film ini, India berhasil mengumpulkan pundi-pundi uang darinya. Menurut catatan United Kingdom Film Council diketahui bahwa pada tahun 2001 pendapatan India dari industri budaya ini total sebesar 1,01 miliar dollar AS yang terdiri dari penjualan tiket dalam negeri sebesar 809 juta dollar AS dan ekspor film India yang mencapai 117,9 juta dollar AS
Industri film India sering kali disebut sebagai Bollywood, untuk menganalogikannya dengan Hollywood AS. Sesungguhnya Bollywood adalah salah satu unsur penting yang membentuk seluruh struktur industry perfilman India. Bollywood menunjuk kepada terminology film-film berbahasa Hindi, bahasa nasional India. Tetapi saat ini film Bollywood sudah memasukkan unsur bahasa Inggris di dalamnya sebagai indikator modernisasi, seperti film My Name is Khan yang mengambil latar tempat di kota Washington DC AS dan film 3 Idiots.
Kemajuan industri perfilman di India lagi-lagi tak lepas dari adanya modernisasi yang dilakukan pemerintah India dalam bidang teknologi informasi. Reputasi teknologi informasi India turut mempengaruhi berkembangnya pusat-pusat industri outsourcing untuk teknologi perfilman. Salah satu bidang yang dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan asing, terutama AS dan Eropa, adalah teknologi animas dan special effect film. Perusahaan-perusahaan asing tersebut memakai jasa outsourcing India karena alasan lebih modern dan India mematok harga 75% lebih murah dibandingkan dengan perusahaan AS. Film-film produksi Hollywood seperti Sinbad dan Ali Baba and The Forty Thieves, menyewa perusahaan outsourcing dari India untuk animasi dan special effect film.
Modernisasi Bidang Pertanian
Komisi Perencanaan India menggambarkan sektor pertanian dalam empat dekade terakhir sebagai sebuah kisah sukses besar (a saga of success) dari India. Dari negara yang semula sangat bergantung pada pangan impor untuk bisa membei makan penduduknya, India dewasa ini tidak hanya swasembada padi-padian (grain), tetapi juga mampu menimbun stok dalam jumlah yang fantastis (di atas 40 juta ton pada tahun 2000). Produksi padi-padian termasuk gandum dewasa ini di India di atas 200 juta ton, atau empat kali lipat lebih dibandingkan tahun 1950-an. India sekarang ini adalah produsen padi-padian terbesar dunia dan eksportir beras terbesar kedua dunia setelah Thailand.
Keberhasilan pertanian India tersebut tidak lepas dari modernisasi yang dinamakan Revolusi Hijau di India. Sebelum program Revolusi Hijau diperkenalkan, India adalah langganan beberapa peristiwa kelaparan besar. Salah satunya adalah kelaparan pada tahun 1943-1944 yang menewaskan hamper 3 juta penduduk Bengali. Tiga tokoh penting dalam Revolusi Hijau adalah C. Subramaniam (Menteri Pertanian Pusat tahun 1965), Benyamin Peary Pal (Direktur Jenderal Indian Council for Agricultural Research and Indian Agriculture Research Institute), dan M. S. Swaminathan
Subramaniam melakukan modernisasi di bidang pembuatan pupuk dan obat-obatan, teknik pembangunan sistem kanal dan sumur dalam untuk irigasi, dan mendirikan lembaga khusus untuk informasi pertanian. Sedangkan B. P. Pal melakukan modernisasi bibit pertanian dan ia berhasil mengembangkan varietas gandum unggul, seperti New Pusa 809, Pusa Sonora, Malavika, dan Klayan Sona. Melalui modernisai dalam berbagai bidang di atas telah membawa India bsia berswasembada pangan bahkan bisa mengekspor hasil pertanian
Modernisasi Bidang Farmasi
Industri farmasi India dalam tiga dekade terakhir bisa dikatakan sangat spektakuler. Dari yang semula indstri yang nyaris tidak eksis pada tahun1970-an, kini menjadi salah satu pemain global yang patut diperhitungkan. Industri farmasi India bukan hanya mampu memenuhi hamper seluruh kebutuhan dalam negeri (95 %), tetapi dewasa ini juga telah memasok 40% kebutuhan dunia untuk obat-obatan dalam bentuk curah (bulk). Ekspor produk farmasi India tidak hanya ke negara-negara berkembang tetapi juga AS, Kanada, Jerman, Perancis dan negara Amerika Latin . Sukses industri farmasi India juga tak lepas dari modernisasi yang telah diterapkannya. Indutsri ini berhasil melakukan lompatan kelas, dari yang semula sekadar sebagai industri pengolahan (processing) menjadi industri yang sangat canggih (shopisticated) dengan teknologi manufaktur yang sangat maju, peralatan yang modern, dan kontrol kualitas yang ketat.
Ekspor produk obat-obatan India, menurut data Direktorat Intelijen Komersial dan Statistik (DGCIS), meningkat 15,57% selama kurun1999-2000, 20,73% pada 2000-2001, 11,13% pada 2001-2002, dan 21,2% pada 2002-2003. Dewasa ini, setidaknya ada 20.000 perusahaan farmasi India yang 260 diantaranya skala besar dan menengah. Dari jumlah ini, sekitar lebih dari 45 perusahaan sudah mendirikan cabang atau fasilitas di luar negeri
Nama-nama besar seperti Ranbaxy, Dr. Reddy’s, Wockhardt, Cipla, Nicholas Piramal. Lupin Laboratories, dan Sun Pharmaceutical Industries bukan lagi nama asing di jajaran pemain global dunia. Cipla adalah salah satu produsen anti-HIV termurah di dunia
Modernisasi Membawa India Menjadi Kekuatan Baru di Asia
Modernisasi India dimulai dari dunia pendidikan dengan mencetak tenaga ahli bidang teknologi informasi. Hingga tercipta apa yang dinamakan Lembah Silikon India (Silicon Valley of India). Di Lembah Silikon ini berdiri sekitar 200 industri besar peranti lunak (software) dan peranti keras (hardware) computer. Sepak terjang India ternyata tidak hanya pada teknologi informasi. Dalam bidang otomotif pun India melakukan modernisasi terhadap sistem perakitan dan manufaktur komponen. Dikarenakan mesin komponen produksi otomotif yang semakin canggih membuat hampir semua produsen mobil terkemuka di dunia memesan di India.
Disamping itu, India juga unggul dalam industri perfilman. Teknik-teknik perfilman yang semakin canggih di India membuat film-film Hollywood mempercayakan jasa animasi dan special effect film kepada perusahaan-perusahaan editing di India. Kini, India menjadi sebuah bangsa : from famine to plenty, from humilitation to dignity (dari kelaparan menjadi keberlimpahan, dari dipermalukan menjadi bermatabat). Modernisasi telah merubah India yang dulu dengan status negara miskin, sekarang menjadi calon pemain baru di dunia global. India kini menjadi perbincangan dunia, bahkan semakin mengkhawatirkan negara-negara maju. Diprediksikan ke depan, India bersama China akan menjadi kekuatan setara dengan AS dan Uni Eropa tidak hanya dalam bidang teknologi, namun bidang ekonomi pula.
Referensi :
[1] Kompas, 2007, India Bangkitnya Raksasa Baru Asia Calon Pemain Utama Dunia di Era Globalisasi, Jakarta : PT. Kompas Media Nusantara, hal 41
[2]Ibid, hal 67
[3]Ibid, hal 83
Selasa, 12 April 2016
Pulau Ujung Paling Barat Indonesia
Pulau Weh (atau We) adalah pulau vulkanik kecil yang terletak di barat laut Pulau Sumatra. Pulau ini pernah terhubung dengan Pulau Sumatra, namun kemudian terpisah oleh laut setelah meletusnya gunung berapi terakhir kali pada zaman Pleistosen. Pulau ini terletak di Laut Andaman. Kota terbesar di Pulau Weh, Sabang, adalah kota yang terletak paling barat di Indonesia.
Pulau ini terkenal dengan ekosistemnya. Pemerintah Indonesia telah menetapkan wilayah sejauh 60 km² dari tepi pulau baik ke dalam maupun ke luar sebagai suaka alam. Hiu bermulut besar dapat ditemukan di pantai pulau ini. Selain itu, pulau ini merupakan satu-satunya habitat katak yang statusnya terancam, Bufo valhallae (genus Bufo). Terumbu karang di sekitar pulau diketahui sebagai habitat berbagai spesies ikan.
Pulau Weh terletak di Laut Andaman, tempat 2 kelompok kepulauan, yaitu Kepulauan Nikobar dan Kepulauan Andaman, tersebar dalam satu garis dari Sumatra sampai lempeng Burma. Laut Andaman terletak di lempeng tektonik kecil yang aktif. Sistem kompleks dan kepulauan busur vulkanik telah terbentuk di sepanjang laut oleh pergerakan lempeng tektonik.
Pulau ini terbentang sepanjang 15 kilometer (10 mil) di ujung paling utara dari Sumatra. Pulau ini hanya pulau kecil dengan luas 156,3 km², tetapi memiliki banyak pegunungan. Puncak tertinggi pulau ini adalah sebuah gunung berapi fumarolik dengan tinggi 617 meter (2024 kaki). Letusan terakhir gunung ini diperkirakan terjadi pada zaman Pleistosen. Sebagai akibat dari letusan ini, sebagian dari gunung ini hancur, terisi dengan laut dan terbentuklah pulau yang terpisah.
Di kedalaman sembilan meter (29,5 kaki) dekat dari kota Sabang, fumarol bawah laut muncul dari dasar laut.[3] Kerucut vulkanik dapat ditemui di hutan. Terdapat 3 daerah solfatara: satu terletak 750 meter bagian tenggara dari puncak dan yang lainnya terletak 5 km dan 11,5 km bagian barat laut dari puncak di pantai barat teluk Lhok Perialakot.
Terdapat empat pulau kecil yang mengelilingi Pulau Weh: Klah, Rubiah, Seulako, dan Rondo. Di antara keempatnya, Rubiah terkenal sebagai tempat pariwisata menyelam karena terumbu karangnya. Rubiah menjadi tempat persinggahan warga Muslim Indonesia yang melaksanakan haji laut untuk sebelum dan setelah ke Mekkah.
Pulau Weh merupakan bagian dari provinsi Aceh. Sensus tahun 1993 menunjukan terdapat 24.700 penduduk di pulau ini.Mayoritas dari populasi tersebut adalah suku Aceh dan sisanya Minangkabau, Jawa, Batak, dan Tionghoa.Tidak diketahui kapan pulau ini pertama kali dihuni. Islam adalah agama utama, karena Aceh adalah provinsi khusus yang menetapkan hukum Syariah.Namun,terdapat beberapa orangKristen dan Budha di pulau ini. Mereka kebanyakan bersuku Jawa, Batak, dan Tionghoa.
Pada tanggal 26 Desember 2004 gempa bawah laut yang besar (9 skala Richter) terjadi di Laut Andaman. Gempa ini memicu terjadinya serangkaian tsunami yang menewaskan sedikitnya 130.000 orang di Indonesia.Pengaruh terhadap Pulau Weh relatif kecil, tetapi tidak diketahui berapa banyak penduduk dari pulau itu yang tewas akibat gempa tersebut.
Sekitar tahun 301 sebelum Masehi, seorang Ahli bumi Yunani, Ptolomacus berlayar ke arah timur dan berlabuh di sebuah pulau tak terkenal di mulut selat Malaka, pulah Weh. Kemudian dia menyebut dan memperkenalkan pulau tersebut sebagai Pulau Emas di peta para pelaut.Pada abad ke 12, Sinbad mengadakan pelayaran dari Sohar, Oman, jauh mengarungi melalui rute Maldives, Pulau Kalkit (India), Sri Langka, Andaman, Nias, Weh, Penang, dan Canton (China). Sinbad berlabuh di sebuah pulau dan menamainya Pulau Emas, pulau itu yang dikenal orang sekarang dengan nama Pulau Weh.
Sedangkan Pulau Weh berasal dari kata dalam bahasa aceh, ”weh” yang artinya pindah, menurut sejarah yang beredar Pulau Weh pada mulanya merupakan satu kesatuan dengan Pulau Sumatra, karena sesuatu hal akhirnya Pulau Weh, me-weh-kan diri ke posisinya yang sekarang. Makanya pulau ini diberi nama Pulau Weh.
Yang paling penting bagi sejarah Pulau Weh adalah sejak adanya pelabuhan di Kota Sabang. Sekitar tahun 1900, Sabang adalah sebuah desa nelayan dengan pelabuhan dan iklim yang baik. Kemudian belanda membangun depot batubara di sana, pelabuhan diperdalam, mendayagunakan dataran, sehingga tempat yang bisa menampung 25.000 ton batubara telah terbangun. Kapal Uap, kapal laut yang digerakkan oleh batubara, dari banyak negara, singgah untuk mengambil batubara, air segar dan fasilitas-fasilitas yang ada lainnya, hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Sebelum Perang Dunia II, pelabuhan Sabang sangat penting dibanding Singapura. Namun, di saat Kapal laut bertenaga diesel digunakan, maka Singapura menjadi lebih dibutuhkan, dan Sabang pun mulai dilupakan.Pada tahun 1970, pemerintahan Republik Indonesia merencanakan untuk mengembangkan Sabang di berbagai aspek, termasuk perikanan, industri, perdagangan dan lainnya. Pelabuhan Sabang sendiri akhirnya menjadi pelabuhan bebas dan menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Indonesia. Tetapi akhirnya ditutup pada tahun 1986 dengan alasan menjadi daerah yang rawan untuk penyelundupan barang..

Indonesia memiliki kurang lebih 17.506 pulau termasuk pulau-pulau kecil terluar yang langsung berbatasan dengan wilayah perairan negara lain (DKP, 2006).Dengan panjang garis perbatasan laut, serta banyaknya pulau-pulau terluar yang potensial untuk dikembangkan, tetapi pada saat yang sama juga memiliki potensi konflik, ditambah dengan banyaknya negara yang berbatasan, maka penyusunan suatu kebijakan yang menyeluruh dari aspek perencanaan, pengembangan, dan pengawasan kawasan perbatasan laut merupakan sebuah kebutuhan. Hingga saat ini, pengembangan perbatasan laut belum dilakukan secara optimal, sebagai akibat belum adanya kebijakan yang komprehensif sehingga sulit untuk diimplementasikan (DKP, 2005).
Pulau ini terbentang sepanjang 15 kilometer (10 mil) di ujung paling utara dari Sumatra. Pulau ini hanya pulau kecil dengan luas 156,3 km², tetapi memiliki banyak pegunungan. Puncak tertinggi pulau ini adalah sebuah gunung berapi fumarolik dengan tinggi 617 meter (2024 kaki). Letusan terakhir gunung ini diperkirakan terjadi pada zaman Pleistosen. Sebagai akibat dari letusan ini, sebagian dari gunung ini hancur, terisi dengan laut dan terbentuklah pulau yang terpisah.
Di kedalaman sembilan meter (29,5 kaki) dekat dari kota Sabang, fumarol bawah laut muncul dari dasar laut.[3] Kerucut vulkanik dapat ditemui di hutan. Terdapat 3 daerah solfatara: satu terletak 750 meter bagian tenggara dari puncak dan yang lainnya terletak 5 km dan 11,5 km bagian barat laut dari puncak di pantai barat teluk Lhok Perialakot.
Terdapat empat pulau kecil yang mengelilingi Pulau Weh: Klah, Rubiah, Seulako, dan Rondo. Di antara keempatnya, Rubiah terkenal sebagai tempat pariwisata menyelam karena terumbu karangnya. Rubiah menjadi tempat persinggahan warga Muslim Indonesia yang melaksanakan haji laut untuk sebelum dan setelah ke Mekkah.
Pulau Weh merupakan bagian dari provinsi Aceh. Sensus tahun 1993 menunjukan terdapat 24.700 penduduk di pulau ini.Mayoritas dari populasi tersebut adalah suku Aceh dan sisanya Minangkabau, Jawa, Batak, dan Tionghoa.Tidak diketahui kapan pulau ini pertama kali dihuni. Islam adalah agama utama, karena Aceh adalah provinsi khusus yang menetapkan hukum Syariah.Namun,terdapat beberapa orangKristen dan Budha di pulau ini. Mereka kebanyakan bersuku Jawa, Batak, dan Tionghoa.
Pada tanggal 26 Desember 2004 gempa bawah laut yang besar (9 skala Richter) terjadi di Laut Andaman. Gempa ini memicu terjadinya serangkaian tsunami yang menewaskan sedikitnya 130.000 orang di Indonesia.Pengaruh terhadap Pulau Weh relatif kecil, tetapi tidak diketahui berapa banyak penduduk dari pulau itu yang tewas akibat gempa tersebut.
Sekitar tahun 301 sebelum Masehi, seorang Ahli bumi Yunani, Ptolomacus berlayar ke arah timur dan berlabuh di sebuah pulau tak terkenal di mulut selat Malaka, pulah Weh. Kemudian dia menyebut dan memperkenalkan pulau tersebut sebagai Pulau Emas di peta para pelaut.Pada abad ke 12, Sinbad mengadakan pelayaran dari Sohar, Oman, jauh mengarungi melalui rute Maldives, Pulau Kalkit (India), Sri Langka, Andaman, Nias, Weh, Penang, dan Canton (China). Sinbad berlabuh di sebuah pulau dan menamainya Pulau Emas, pulau itu yang dikenal orang sekarang dengan nama Pulau Weh.
Sedangkan Pulau Weh berasal dari kata dalam bahasa aceh, ”weh” yang artinya pindah, menurut sejarah yang beredar Pulau Weh pada mulanya merupakan satu kesatuan dengan Pulau Sumatra, karena sesuatu hal akhirnya Pulau Weh, me-weh-kan diri ke posisinya yang sekarang. Makanya pulau ini diberi nama Pulau Weh.
Yang paling penting bagi sejarah Pulau Weh adalah sejak adanya pelabuhan di Kota Sabang. Sekitar tahun 1900, Sabang adalah sebuah desa nelayan dengan pelabuhan dan iklim yang baik. Kemudian belanda membangun depot batubara di sana, pelabuhan diperdalam, mendayagunakan dataran, sehingga tempat yang bisa menampung 25.000 ton batubara telah terbangun. Kapal Uap, kapal laut yang digerakkan oleh batubara, dari banyak negara, singgah untuk mengambil batubara, air segar dan fasilitas-fasilitas yang ada lainnya, hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Sebelum Perang Dunia II, pelabuhan Sabang sangat penting dibanding Singapura. Namun, di saat Kapal laut bertenaga diesel digunakan, maka Singapura menjadi lebih dibutuhkan, dan Sabang pun mulai dilupakan.Pada tahun 1970, pemerintahan Republik Indonesia merencanakan untuk mengembangkan Sabang di berbagai aspek, termasuk perikanan, industri, perdagangan dan lainnya. Pelabuhan Sabang sendiri akhirnya menjadi pelabuhan bebas dan menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Indonesia. Tetapi akhirnya ditutup pada tahun 1986 dengan alasan menjadi daerah yang rawan untuk penyelundupan barang..

Indonesia
merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 17.504 pulau (DKP, 2005) dan
memiliki pantai sepanjang 81.290 kilometer (Dishidros TNI-AL, 2003 dalam DKP
2005). Sejak ditetapkan pada tahun 1957 melalui Deklarasi Juanda dan dikukuhkan
oleh Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1960, yang kemudian diganti dengan
Undang-Undang RI nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia, serta diakui
secara internasional melalui Undang-Undang Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS)
1982, maka perairan Indonesia menjadi suatu wilayah yang utuh, dimana batas
lautnya diukur dari titik pulau-pulau terluarnya.
Indonesia
sebagai negara kepulauan yang memiliki pantai dan bercirikan nusantara,
batas-batas lautnya meliputi Batas Laut Teritorial (BLT), Batas Zona Ekonomi
Eksklusif (ZEE), Batas Landas Kontinen (BLK), Batas Zona Tambahan (BZT) dan
Batas Zona Perikanan Khusus (Special Fisheries Zone/SFZ). Berbagai jenis garis
batas ini, belum seluruhnya terdeposit di UNCLOS atau dalam perjanjian
perbatasan antarnegara, baik bilateral maupun multilateral. Sampai saat ini
proses pengukuran, perjanjian maupun pemecahan permasalahan-permasalahan yang
menyangkut batas negara khususnya batas laut masih terus dilakukan.
Indonesia memiliki kurang lebih 17.506 pulau termasuk pulau-pulau kecil terluar yang langsung berbatasan dengan wilayah perairan negara lain (DKP, 2006).Dengan panjang garis perbatasan laut, serta banyaknya pulau-pulau terluar yang potensial untuk dikembangkan, tetapi pada saat yang sama juga memiliki potensi konflik, ditambah dengan banyaknya negara yang berbatasan, maka penyusunan suatu kebijakan yang menyeluruh dari aspek perencanaan, pengembangan, dan pengawasan kawasan perbatasan laut merupakan sebuah kebutuhan. Hingga saat ini, pengembangan perbatasan laut belum dilakukan secara optimal, sebagai akibat belum adanya kebijakan yang komprehensif sehingga sulit untuk diimplementasikan (DKP, 2005).
Konflik-konflik
perbatasan seperti yang terjadi pada kasus tenaga kerja Indonesia di Nunukan
kurang dapat ditangani secara cepat, karena perangkat aturan pelaksanaannya
belum tersedia. Pemerintah daerah yang seharusnya dapat cepat bertindak, tidak
dapat melakukan apa-apa akibat keterbatasan kewenangan yang dimiliki. Untuk itu
diperlukan penyusunan kebijakan kawasan perbatasan, khususnya perbatasan laut,
maka peran masing-masing instansi secara bersinergi dapat diidentifikasi dan
ditentukan dalam konteks pembangunan kawasan perbatasan laut Indonesia.
Yang
dimaksudkan dengan Pulau Terluar yaitu pulau dengan luas area kurang atau sama
dengan 2000 km2 (dua ribu kilometer persegi) yang memiliki titik-titik dasar
koordinat geografis yang menghubungkan garis pangkal laut kepulauan sesuai
dengan hukum Internasional dan nasional (Perpres No. 78 Tahun 2005).
Berdasarkan
hasil inventarisasi yang dilakukan oleh Dishidros TNI-AL pada tahun 2003,
terdapat 92 pulau kecil terluar yang tersebar di 17 provinsi dimana
keberadaannya mempengaruhi luas wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik
Indonesia
Pulau
Rondo Kelurahan Ujung Ba’u, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Sabang, Nanggroe
Aceh Darussalam. Terletak di ujung utara Pulau Weh, merupakan pulau terluar
strategis di ujung barat Indonesia yang menjadi jalur pelayaran internasional,
berbatasan dengan India, tidak dihuni tetap dan hanya dihuni oleh petugas jaga
mercusuar. Kekayaan alam berupa perikanan dan terumbu karang, rawan pencurian
ikan (illegal fishing).
Pulau
terluar sangat menentukan luas perairan suatu negara dengan mengukur lebar laut
teritorial dari garis pangkal lurus kepulauan hal ini dijelaskan di dalam
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 1985 Tentang Pengesahan United
Nations Convention On The Law Of The Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa
Tentang Hukum Laut) dan diperjelas pada PP No. 38 Tahun 2002 pasal 3 yang
menyatakan bahwa di antara pulau-pulau terluar, dan karang kering terluar
kepulauan Indonesia, garis pangkal untuk mengukur lebar laut teritorial adalah
Garis Pangkal Lurus Kepulauan.
Garis
Pangkal Lurus Kepulauan sebagaimana dimaksud adalah garis lurus yang
menghubungkan titik-titik terluar pada Garis Air Rendah pada titik terluar
pulau terluar, dan karang kering terluar yang satu dengan titik terluar pada
Garis Air Rendah pada titik terluar pulau terluar, karang kering terluar yang
lainnya yang berdampingan.Pulau-pulau terluar merupakan kawasan strategis dan
memiliki potensi sangat penting, karena di pulau-pulau tersebut terdapat Titik
Dasar (TD) dan Titik Referensi (TR) yang digunakan untuk menarik garis pangkal
batas wilayah atau teritorial RI (Berita Antara, 2007).
Dari
aspek demografi (kependudukan) sebenarnya pulau-pulau terluar adalah tempat
yang teramat baik bagi pemerataan jumlah penduduk. Selama ini program
perpindahan penduduk dari Jawa, Madura dan Bali biasanya menuju pulau-pulau
besar (Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi) dan berorientasi ke arah pertanian.
Program tersebut akan lebih baik jika dikombinasikan dengan perpindahan
penduduk ke pulau-pulau kecil terluar Indonesia. Dengan demikian, pemerataan
distribusi penduduk Indonesia secara geografis tetap tercapai, bahkan
tercapainya tujuan lain seperti pertahanan dan keamanan. Aktivitas penduduknya
pun tidak hanya berorientasi pada pertanian saja tetapi juga perikanan.
Dengan
adanya penduduk di pulau-pulau terluar tersebut, maka tidak mungkin akan muncul
pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang memberikan dampak terhadap
perekonomian nasional.Akibat posisinya yang sangat strategis maka banyak
sengketa wilayah laut yang terjadi di beberapa negara di dunia yang memerlukan
waktu berpuluh-puluh tahun untuk menyelesaikannya bahkan sampai menimbulkan
perang, seperti antara Inggris dan Argentina yang memperebutkan Kepulauan
Malvinas. Kasus Sipadan-Ligitan yang akhirnya jatuh ke tangan Malaysia,
merupakan pengalaman buruk Indonesia.
Perbatasan
laut yang masuk dalam tinjauan suatu kebijakan meliputi wilayah perairan di
kawasan perbatasan, serta pulau-pulau terluarnya. Wilayah perairan menyangkut
kawasan teritorial maupun ZEE yang terkait dengan pengelolaan dan pelestarian
sumberdaya alam, termasuk pengelolaan sumberdaya perikanan di kawasan
perbatasan dan monitoring serta pengamanan terhadap keberadaan kapal-kapal
asing, sedangkan pulau-pulau terluar menyangkut berbagai aspek yang terkait
dengan pengelolaan pulau-pulau kecil di kawasan perbatasan, baik yang
berpenghuni maupun tidak.Kebijakan khusus di bidang pengelolaan laut dan
pulau-pulau kecil di kawasan perbatasan ini, memiliki kekhasan penting karena
menyangkut interaksi dengan dunia internasional terutama menyangkut hukum-hukum
dan perjanjian yang berlaku secara universal maupun perjanjian dengan
negara-negara tetangga yang berdekatan.
Tujuan
dari penyusunan kebijakan ini adalah untuk memberikan landasan atau kerangka
berpikir dalam penyusunan kebijakan nasional yang menyeluruh dan terpadu
mengenai penanganan kawasan perbatasan laut, baik yang bersifat umum untuk
seluruh kawasan perbatasan maupun yang bersifat khusus bagi masing-masing
kawasan perbatasan yang spesifik. Adapun sasaran yang hendak dicapai dari
kebijakan pengembangan kawasan perbatasan laut dan pulau-pulau terluar adalah:
1)
Teridentifikasinya permasalahan, peluang, dan potensi pengembangan kawasan
perbatasan laut.
2)
Terpadunya konsep-konsep kebijakan penanganan kawasan perbatasan laut yang bersifat
sektoral maupun regional.
3)
Tersusunnya landasan konsep bagi kebijakan nasional penanganan kawasan
perbatasan laut dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan
masyarakat perbatasan pulau-pulau terluar, menjaga kedaulatan negara dan
meningkatkan rasa kebangsaan, serta memantapkan penerapan dan penegakan hukum
nasional.
Telah
terdapat kebijakan persesuaian antara Undang-Undang Nomor 17 tahun 1985 dengan
konsepsi Sistem Pertahanan Nusantara. Dan sesungguhnya secara hukum perairan di
Indonesia telah diatur penataannya dalam sebuah tata ruang melalui Undang-undang
Nomor 6 tahun 1996. Namun Undang-undang Nomor 6 tahun 1996 hanya mengatur
perairan yang digolongkan sebagai perairan yurisdiksi Indonesia. Artinya,
masalah ZEE, zona tambahan dan Pulau-Pulau Terluar tidak tercakup dalam
Undang-Undang Nomor 6 tahun 1996.
Dari
kepentingan pertahanan negara, perlu ditetapkan wilayah perairan mana saja yang
dikategorikan sebagai zona pertahanan maritim. Penetapan ini sesungguhnya bukan
saja penting, namun juga ada baiknya dilakukan dalam waktu secepatnya setelah
mendalami berbagai aspek yang mempengaruhinya, yaitu aspek hukum, aspek
diplomasi politik dan aspek operasional. Dengan penetapan zona pertahanan
maritim, maka secara operasional terbuka kesempatan bagi TNI-AL dan TNI-AU
untuk menggelar latihan gabungan secara rutin di berbagai kawasan perairan yang
dikategorikan sebagai zona pertahanan maritim. Hal ini akan berguna karena
setiap perairan memiliki karakteristik yang berbeda-beda bagi digelarnya
operasi pertahanan secara gabungan.
Untuk
itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, aspek hukum.
Menurut UNCLOS 1982 yang diratifikasi oleh melalui Undang-undang Nomor 17 tahun
1985, setiap negara yang meratifikasi UNCLOS 1982 memiliki kewenangan untuk
mengatur zonasi perairan yurisdiksinya sesuai kepentingan nasionalnya
masing-masing. Sedangkan pada ZEE dan zona tambahan, dari aspek pertahanan
setiap negara berhak mengambil tindakan yang dianggap perlu bila ada hostile
intention dan hostile act dari lawan. Dikaitkan dengan zonasi untuk kepentingan
pertahanan, sesungguhnya Indonesia secara sepihak dapat mendeklarasikan kepada
dunia internasional bahwa ZEE dan zona tambahan di sekitar perairan yurisdiksi
Indonesia termasuk dalam zonasi Sistem Pertahanan Nusantara.
Deklarasi
secara sepihak tersebut akan terkait aspek kedua, yaitu aspek diplomasi
politik. Deklarasi ini harus ditindaklanjuti oleh perjuangan diplomasi politik
di tingkat internasional. Karena hampir sudah pasti akan muncul tekanan dari
dunia internasional guna membatalkan deklarasi tersebut, khususnya dengan
negara-negara yang berkepentingan dengan perairan di sekitar Nusantara. Tekanan
tersebut muncul karena adanya kepentingan politik sekaligus ekonomi mereka yang
akan terganggu dengan deklarasi Indonesia itu.
Referensi :
- https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Weh
- DirektoratPulaukecilIndonesia.com/ 7 April 2016
- http://salehlubis.blogspot.com/2008/05/kebijakan-pemerintah-atas-pulau-pulau.html
Langganan:
Komentar (Atom)


